Mlangi yang merupakan Pathok kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat bagian barat, adalah sebuah dusun dimana bersemayam seorang waliyullah, Kyai Nur Iman.
Nama asli nya adalah BPH Sandiyo, salah satu leluhur keraton yang menanggalkan atribut kekuasaan untuk kemudian berdakwah menyebarkan agama islam.
Sesuai asal kata penamaan mlangi, yaitu mulangi, yang dalam bahasa indonesia artinya mengajar,. kehidupan masyarakatnya sangat dekat dengan mengaji, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Tak heran, banyak santri dari berbagai daerah bahkan lintas pulau ikut menimba ilmu di pondok-pondok pesantren yang ada di mlangi.
Disana nilai dan norma keagamaan sangat dijaga, baik dalam bermuamalah maupun amaliyah tradisi yang dijalani.
Semangat mulangi dan mengaji itu turun menurun kepada para Cucu Kyai Nur Iman. Salah satunya adalah Kyai Haji Raden . Zamruddin, pemuda yang memiliki kecintaan dan semangat tinggi terhadap ngaji . Beliau adalah keturunan ketujuh dari siMbah Kyai Nur Iman. Setelah mengaji dengan Kyai Haji. Sirruddin di Langgar Lor, atau yang sekarang dikenal dengan Pondok Pesantren AL MIFTAH, beliau melanjutkan pendidikannya di Lasem, tepatnya di Pondok Pesantren AL HIDAYAH, salah satu pondok sepuh yang tercatat dalam sejarah telah melahirkan banyak ulama besar di negeri ini. Disana, beliau digembleng langsung oleh Sang Guru, Kyai Haji . Ma’shoem Ahmad.
Kyai Zam tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga ilmu berorganisasi dan bermasyarakat. Ketaatan beliau terhadap sang guru menjadikan beliau sebagai salah satu Santri kinasih Simbah Kiai Ma’sum. Beliau diberi amanah menjadi Lurah pondok serta ikut membantu sang guru berdakwah di masyarakat sekitar. Bahkan setelah menikah dengan Nyai Rubai’ah, kiai Zamruddin tidak langsung muqim kembali ke mlangi.
Sesuai dawuh sang guru, beliau meneruskan dakwah bersama istri tercinta di Lasem. Tepatnya di Kampung Tulis. Setelah beberapa tahun dan berhasil melewati berbagai macam tantangan berdakwah ditengah berbagai kalangan, salah satunya kaum abangan, kiai Zamruddin dan Nyai Rubaiah akhirnya kembali ke Mlangi pada tahun seribu sembilan ratus enam puluh tiga.
Sepulang dari Lasem, para Kiai sesepuh Mlangi meminta kesediaan Kyai Zamruddin dan Nyai Rubaiah untuk menyelenggarakan pendidikan kepesantrenan dan tahfidzul Qur’an bagi masyarakat putri mlangi, dikarenakan pada saat itu pondok pesantren yang ada di Mlangi baru merambah pendidikan untuk kalangan laki-laki. Dengan berniat mengabulkan permintaan dari para sesepuh, maka lahirlah Pondok Pesantren Al Falahiyyah pada tahun seribu sembilan ratus enam puluh tiga, sebagai pondok pesantren yang dikhususkan bagi santri Putri, terutama bagi yang ingin menghafalkan Al Qur'an.
Waktu demi waktu program tahfidz mulai diminati oleh kalangan santri Putra. Pada tahun Seribu sembilan ratus tujuh puluh dua, Pondok Pesantren falahiyyah membuka kesempatan bagi santri putra untuk bisa belajar dan mengaji bersama Kiai Zamruddin dan Nyai Rubaiah. Seiring berkembangnya zaman, Pondok pesantren Al Falahiyyah kini telah berkembang pesat, secara sarana, prasarana maupun program-program pendidikan madrasah diniyyah dan formal.
Pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh satu, Pondok Pesantren Al Falahiyyah melakukan pembangunan asrama putra terpisah untuk kemaslahatan dan kenyamanan para santri dalam mengaji. Saat ini Pondok Pesantren Al Falahiyyah telah bekerjasama dengan Yayasan Nur Iman dalam menyelenggarakan pendidikan MI, MTS, dan MA. Pesantren Al Falahiyyah juga menerima santri putra dan santri putri dari berbagai daerah yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi di Jogjakarta namun tetap ingin melanggengkan pembelajarannya dipesantren.
Lalu siapakah sosok dibalik keberhasilan Pondok Pesantren Al Falahiyyah saat ini ?
Beliau adalah Simbah Nyai Hajah Rubai’ah Sofiah Jamilah. Seorang hafidzoh, putri dari KH. Siddiq Zarkasyi, Berjan, Purworejo. Sanad mengaji al qur’an beliau bersambung sampai Rasulullah melalui guru beliau, Romo Qadir Krapyak, Kiai Haji Ma’sum Ahmad Lasem dan Simbah Nyai Nuriyah Ma’sum Lasem.
Simbah Nyai Hajah Rubai’ah Sofiah Jamilah Dipersunting oleh KHR. Zamruddin, yang kemudian dikaruniai 5 putri dan 3 putra. Setelah Wafatnya Kyai Zamrudin pada tahun 1997, Simbah Nyai Rubai’ah berjuang sekuat tenaga melanjutkan keberlangsungan hidup Pondok Pesantren Al Falahiyyah, sembari menunggu putra-putranya kembali dari menimba ilmu dipondok pesantren. Hingga saat ini, setelah kepulangan putra putrinya dari pesantren, beliau tetap menjadi jimat bagi banyak orang. Akhlak dan nasehatnya adalah teladan yang tak tergantikan. Dawuh-dawuh dari lisan yang selalu basah dengan lantunan al qur’an dan sholawat adalah obat paling mujarab bagi setiap kegelisahan. Riyadhohnya melahirkan banyak generasi alum dan ahli qur’an. Barokah doa dan ridhonya selalu ditunggu diharapkan semua orang. Senyumnya adalah kebahagiaan bagi setiap insan. Semoga beliau dan seluruh dzurriyyah selalu diberi panjang umur fi thoatillah wa rosulih, dalam kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan.